Jumat, 24 Agustus 2012

Penghianatan


terpaku aku mentap haru biru..
membelenggu menyentuh sukma..
hati menangis, langitpun berkabung,
skejap butiran itu jatuh menyentuh tanah..
bersama rintik hujan aku merasakan sakit itu..
penghianatan itu aku dapat darimu..
menyisakan janji telah telah membusuk dalam cintamu..
kesetiaanpun hanya fatamorgana di gersangnya kasih sayang..

kini cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat..
tak perlu aku kenang untuk hari esok..
biarlah malam menghapus semua kenangan itu..

dhe.sastra
21.08.2012

Rabu, 15 Agustus 2012

10 Cerita Rakyat Yang Melegenda.

indonesia adalah negara yang begitu kaya, dengan berbagai suku bangsa dan beragam kepercayaan. Begitupun dengan budaya daerah yang banyak dan beragam. setiap daerah di indonesia pasti mempunyai cerita rakyat tersendiri, yang menarik untuk kita pelajari, berikut beberapa cerita rakya yang melegenda di indonesia. versi saya sendiri,, he

1. Sankuriang dari Jawa Barat
Sangkuriang adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah Jawa Barat, sangkuriang bercerita tentang seorang pemuda bernama sangkuriang yang berniat menikahi Dayang Sumbi, yang tidak lainya adalah ibunya sendiri. pertama Dayang Sumbi tidak tau kalau Sangkurian itu adalah anak yang dulu kabur karana telah membunuh ayahnya sendiri (si Tumang). tetapi setelah Dayang sumbi tau kalau sangkurian itu anaknya. Dayang Sumbi menolak dinikahi Sangkuriang. tetapi sangkuriang bersikeras ingin menikahi dayang sumbi, akhirnya bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya...
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

2.Malin Kundang dari provinsi Sumatera Barat, 
Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

3. Jaka Tarub dari Jawa Tengah
Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.
Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

4. Ande-Ande Lumut dari jawa timur
Dahulu kala, ada dua buah kerajaan,  Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali.
Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.
Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala. Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

5.Siti Nurbaya dari Tanah Minag Sumatra Barat
Siti Nurbaya.Legenda cerita rakyat yang mengisahkan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa. Sang pria bernama Syamsul Bahri,
selain berwajah tampan juga berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Si gadis bernama Siti Nurbaya, berparas jelita, berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul sangat direstui oleh kedua orang tuanya yang masih punya hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah Mamak Siti Nurbaya
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik.di sini

6.Si Pitung dari Jakatra
Pada jaman penjajahan belanda dahulu, di daerah Jakarta (dahulu Batavia) hiduplah seorang pria gagah yang bernama si Pitung. Dia lahir dari pasangan suami istri yang bernama pak Piun dan bu Pinah. Pekerjaan pak Piun sehari-hari adalah bertani.
Setiap hari si Pitung membantu bapaknya menanam padi, memetik kelapa dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Si Pitung juga tak segan untuk membantu tetangganya yang memerlukan bantuan. Tiap hari si Pitung juga sangat rajin menunaikan sholat dan puasa, bapaknya juga selalu mengajarkan si Pitung untuk bertutur kata yang santun, dan patuh kepada orang tua.
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

7.Timun mas dari Jawa Timur
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.
Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu  kemudian memberi mereka biji mentimun.
“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

8. Semangka Emas dari kalimantan Barat
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Sambas, Kalimantan Barat, hiduplah seorang saudagar yang kaya-raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Namun, keduanya memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang. Ia tidak pernah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Sebaliknya, Derwaman sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Ia tidak rakus dengan harta dan uang.   
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

9. Asal Mula ikan Duyung dari Selawesi Tengah
Diceritakan hiduplah sepasang suami istri bersama tiga orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang ayah menanam sayuran dan umbi-umbian di ladang dan mencari ikan di laut. Setiap pagi sebelum berangkat ke ladang, ayah selalu sarapan bersama istri dan ketiga anaknya.
Suatu pagi seperti biasanya keluarga itu sarapan bersama dengan lauk ikan hasil tangkapan ayah mereka. Daging ikan sangat jarang mereka rasakan, hingga menjadi sesuatu yang istimewa. Karena ikan berlebih, ayah berpesan kepada istrinya untuk menyimpan sisa ikan untuk lauk siang nanti. 
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini

10.Dewi Sri (Asal Mula Padi) Versi Jawa Barat
Pada suatu zaman, tersebutlah sebuah taman indah nan damai yaitu “Taman Sorga Loka”. Ditempat tersebut  berdiam seseorang yang bernama “Sunan Ibu” yang sedang menunggu kehadiran “Dewi Sri Pohaci Long Kancana”. Dewi Sri melaporkan bahwa di di suatu tempat di muka bumi yang bernama “Buana Panca Tengah” belum terdapat “Cihaya” berupa sesuatu kebutuhan hidup umat manusia. Mendengar hal tersebut, Sunan Ibu memerintahkan agar Dewi Sri berangkat ke Buana Panca Tengah.   
utntuk melihat cerita lebih lengkapnya silahkan klik di sini
 
 
 


ada apa dengan tanggal 26.?

ada apa dengan angka 26 atau tanggal 26,,,? itu pertanayann dalam benak saya yang selama ini saya pendam. entah ini mitos atau hanya kebetulan saja, 26 adalah angka sial untuk indonesia. Banyaknya kejadian bencana alam terbesar dan kesialan lainya di indonesia terjadi pada tanggal "26". bukanya saya percaya akan mitos "26", tapi banyak kejadian yang terjadi pada hari itu. ini beberapa contoh kejadian yang terjadi pada tanggal 26.

1. Runtuhnya Jembatan Tenggarong
Pada tanggal 26 November 2011 terjadi sebuah tragedi yang memprihatinkan, jembatan Tenggarong yang baru beberapa tahun dibangun sepanjang sekitar 700m itu runtuh. Jembatan ini melintasi sungai Mahakam dengan tujuan mempermudah lalu lintas dari kecamatan Tenggarong seberang dengan kota Tenggarong, juga merupakan jembatan terpanjang di Kutai.

2. Gunung Krakatau
Letusan yang merubah iklim global ini terjadi pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

3. Tsunami Di Aceh
Becana alam kedua terbasar setelah letusan gunung krakatau ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. gempa yang terjadi jam 7:58:53 WIB yang mengakibatkan terjadinya tsunami tersebut memporak-porandakan aceh,Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.  menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah

4. Gempa Di Yogyakarta.
Pada tanggal 26 Mei 2006, Yogyakarta-pun diguncang gempa bumi tektonik hebat di saat masyarakat masih tertidur dengan pulasnya. Terjadi di sekitar selatan-barat daya Yogyakarta, berkekuatan 6.2 skala richter. Gempa memporak porandakan Yogyakarta khususnya wilayah sekitar Pantai Selatan yaitu Bantul. Sebagian besar rumah dan sarana publik hancur, dan korban jiwapun tak terhitung jumlahnya. Akses ke Yogya sangat terbatas karena Bandara Adi Sucipto ditutup sementara waktu.

4. Gempa Di Tasikmalaya
Pada tanggal 26 Juni 2010, kembali dikejutkan dengan terjadinya gempa di Tasikmalaya Jawa Barat. Kekuatan gempa ini sampai terasa di beberapa kota sekitarnya, termasuk Jakarta, Bogor dll. Namun gempa saat itu tidak menimbulkan tsunami. Korban jiwa kembali berjatuhan.

5. Sunami di Kepulan Mentawai
Pada tanggal 26 Oktober 2010, di tahun yang sama kembali terjadi gempa bumi disertai tsunami kecil di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat dengan kekuatan 7.2 skala richter. Banyak bangunan rusak, ratusan  korban jiwa dan ratusan  jiwa dinyatakan hilang.
Dan pada tanggal yang sama, Yogyakarta kembali diguncang bencana yaitu meletusnya gunung Merapi. Banyak korban jiwa ketika awan panas atau wedus gembel meluncur dengan kecepatan yang maha dasyat, sehingga masyarakat tak sempat menyelamatkan diri. Termasuk mbah Marijan, sosok fenomenal yang ikut meninggal pada saat gunung merapi meletus.

5. Kekalahan timnas indonesia.
untuk pertama kalinya indonesia tumbang di ajang Piala AFF di setadion Nasional Bukit Jalil, Kuala lumpur. banyak pihak yang berpendapat kekalaha indonesia tak lepah karen bertanding pada hari Minggu, 26 Desember 2010.

6.Tanggal 26 April 2011, terjadi gempa di Cilacap pada siang hari sekitar pukul 13.40 dengan kekuatan 6.3 skala richter. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun kekuatan gempa dirasakan di beberapa kota.

7. Runtuhnya Jembatan Tenggarong
Dan baru-baru ini terjadi sebuah tragedi yang memprihatinkan,pada tanggal 26 November 2011 jembatan Tenggarong yang baru beberapa tahun dibangun sepanjang sekitar 700m itu runtuh. Jembatan ini melintasi sungai Mahakam dengan tujuan mempermudah lalu lintas dari kecamatan Tenggarong seberang dengan kota Tenggarong, juga merupakan jembatan terpanjang di Kutai.

kita tak pernah tau apa rencana Tuhan di balik semua ini. semua berawal dariNYA dan kembali hanya padaNYa. mati dan hidup kita adalah di tnganNYA kita hanya bisa berdoa yang terbaik buat kita pribadi dan seluruh warga indonesia, serta semoga para korban bencana alam dapat diterima amal ibadahnya serta diterima disisi ALLAH.. amin..

5 Penemuan misterius

Banyak penemuan-penemuan yang telah di uji kebenaranya dan bnyak bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. dan ada juga yang masih menjadi misteri, dan para ilmuan berbondong-bondong memecahkan mistrinya. berikut penemuan yamg masih misterius yang pernah di temukan,,
1. Bola angkasa.

Bola angkasa dengan berat 6 kilogram tersebut ditemukan di sebuah desa di daerah terpencil yang berlokasi 750 kilometer dari ibu kota Namibia, yakni Windhoek. Demikian seperti dikutip dari WAToday. Sebelumnya para penduduk lokal mendengar beberapa ledakan akibat jatuhnya benda tersebut, dan telah mengkontak pihak NASA dan European Space Agency. Bahkan di internet muncul rumor bahwa itu adalah benda-benda milik alien. Situs gosip Gawker melaporkan bahwa bola tersebut sebuah tangki bensin untuk menyimpan hydrazine dari sebuah roket tak berawak. Seorang komentator dari Gawker mengatakan bahwa benda tersebut adalah sebuah 'tanki bensin hydrazine 39 liter' yang biasa digunakan untuk roket tak berawak untuk peluncuran satelit. Beberapa bola serupa juga jatuh di wilayah Afrika Selatan, Australia dan Amerika Latin dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, menurut laporan tersebut

2. Jamur  Hantu

Spesies jamur Neonothopanus gardner berhasil ditemukan kembali di wilayah Brasilia pada 2009 oleh tim ilmuwan yang dipimpin Dennis Desjardin dari San Fransisco State University. Sebelumnya, spesies itu dinyatakan menghilang sejak tahun 1840. Penemuan kembali spesies tersebut dimuat dalam jurnal Mycologia bulan Juli 2011. Neonothopanus gardner unik karena bisa bercahaya (bioluminescence) dalam gelap seperti kunang-kunang. Jamur yang bisa memproduksi cahaya acapkali disebut jamur hantu.
Untuk menemukan spesies ini, Desjardin dan rekannya harus keluar pada malam hari, mengarungi hutan, serta waspada dengan serangan ular dan jaguar. Dengan kamera digital, mereka memotret jamur yang diduga bioluminescence dan menganalisis sinarannya, kadang yang tak bisa dilihat mata.

3. Gua berbentuk tengkorak

Satu foto yang diambil oleh seorang penyelam di Inggris, sangatlah aneh dan mengerikan. Foto tersebut menunjukkan gua perairan di Inggris yang membentuk sebuah gambar tengkorak kepala manusia. Foto gua perairan tersebut asli dan bukanlah rekayasa.Menurut berita Dailymail, lokasi foto tersebut berada di Hodge Close, suatu perairan bekas pertambangan yang terletak di dekat Coniston, Cumbria, Lake District, Inggris. Lokasi tersebut dikenal masyarakat sekitar sangat berbahaya dan telah merenggut nyawa beberapa penyelam.Perairan di Hodge Close sebenarnya sangat popular dijadikan tempat menyelam. Perairan ini dapat diakses melalui sebuah terowongan dengan panjang 25 meter dan luas dua meter persegi.Fotografer Peter Bardsley mengatakan, para penyelam ada yang meninggal di bawah terowongan tersebut. Bahkan, hal yang sama juga dialami oleh beberapa pendaki yang jatuh saat mencoba menapaki dinding gunung karang di situ.“Foto tersebut tidak dimanipulasi dengan cara apapun dan tampak sangat menyeramkan. Apalagi jika diputar 90 derajat, yang menunjukkan gambar tengkorak. Aku pernah melihatnya ketika melakukan pengolahan citra satelit setelah pulang dari menyelam di sana,” ujar Bardsley.Perairan Hodge Close memiliki kisaran suhu 6 derajat Celcius atau di bawahnya. Pada 2005, tim penyelamat Gunung Coniston membantu seorang penyelam berusia 48 tahun, yang mengalami shock ringan dan muncul kepermukaan air tak lama setelah melakukan penyelaman.Menurut penyelam itu, ia seperti melihat tubuh manusia di dasar perairan. Berdasarkan data yang tercatat, sebanyak tiga orang penyelam berpengalaman meninggal dunia di perairan Hodge Close setahun terakhir.

4. Penemuan Danau Es Yang Mengering Di Mars

Badan Antariksa AS, NASA, baru-baru ini menemukan sebuah danau es yang mengering di bawah tanah planet Mars. Danau es tersebut mengandung karbon dioksida lebih besar daripada yang diperkirakan ilmuwan sebelumnya.Material karbon dioksida yang tersisa itu diduga oleh ilmuwan berasal dari bekas lapisan atmosfer Mars di masa lampau saat planet Merah itu memiliki kondisi yang kondusif untuk kehidupan."Ini benar-benar harta karun," kata Jeffrey Plaut, seorang ilmuwan yang bekerja di NASA Jet Propulsion Laboratory, dalam laporannya yang muncul di jurnal Science, seperti dikutip Pravda.ru, Sabtu 23 April 2011."Kami menemukan sesuatu di bawah tanah yang tidak pernah disadari oleh siapapun sebelumnya," tandas Plaut.Temuan ini ditangkap pertama kali oleh radar observasi milik NASA, Mars Reconnaissance Orbiter, yang melayang di atas permukaan Mars. Radar antariksa ini merupakan radar yang diciptakan khusus untuk mencari tahu petunjuk tanda-tanda kehidupan di Mars.Danau es itu berukuran 3.000 kilometer kubik, atau setara volume Danau Superior. Ia menampung karbon dioksida sangat besar, hingga dua kali massa atmosfer Mars. Jika dibandingkan dengan Bumi, atmosfer Mars memiliki tekanan permukaan kurang dari 1 persen. Dan, sekitar 95 persen udara di Mars adalah karbon dioksida, dibandingkan Bumi hanya memiliki 0,04 persen CO2."Kami sudah tahu bahwa ada karbon dioksida di atas sisa es kecil di permukaan Mars. Tapi, yang satu ini volumenya 30 kali lipat lebih banyak ketimbang perkiraan sebelumnya," ujar Roger Philips, ilmuwan lain yang berasal dari Southwest Research Institute di Colorado dan juga menjabat sebagai wakil ketua tim untuk radar Mars Reconnaissance Orbiter.

5. Penemua Makam Kuno Di Pembuangan Sampah Di Roma 

Kantor berita Italia ANSA melaporkan, makam itu ditemukan di bawah tumpukan berton-ton sampah di reruntuhan abad 17 di Pozzuoli, situs kota tepi laut Romawi kuno Puteolanum.Para pekerja pembersih memakai peralatan konstruksi di lokasi dekat Napoli dan berhasil menyingkirkan tumpukan teratas sampah. Saat itu juga, para pekerja ini menemukan terowongan menuju makam.Arkeolog menggambarkannya temuan ini sebagai temuan ‘yang luar biasa penting’. Pemilik situs pembuangan sampah telah didakwa atas kejahatan pada lingkungan dan warisan budaya Italia.


Misteri Titanic Terungkap..

http://static.palingseru.com/2012/04/bangkai-kapal-Titanic-300x175.jpg
Kapal Titanic tenggelam pada tanggal  15 April 1912  setelah menabrak sebuah gunung es pada pelayaran perdananya dari Southampton, Inggris ke New York City. Tenggelamnya Titanic mengakibatkan kematian sebanyak 1.514 orang dalam salah satu bencana maritim masa damai paling mematikan sepanjang sejara. Tenggelamnya kapal penumpang terbesar pertama di dunia RMS Titanic, menyimpan banyak misteri dan versi. Terutama tentang bagaimana mungkin kapal yang didaulat tidak bisa tenggelam itu akhirnya terpuruk di dasar laut justru pada pelayaran perdananya.
Seorang wanita di Inggris baru-baru ini mengungkapkan sebuah kisah di balik tenggelamnya kapal Titanic, yang akan meruntuhkan semua versi yang ada.

Louise Patten
Namanya Louise Patten, seorang pengusaha wanita yang juga merupakan direktur perusahaan FTSE 100.
Louise Patten tak mengharapkan uang dari penjualan buku tersebut karena sebagai direktur ia sudah kaya raya. Ia hanya ingin “mewariskan” apa yang telah diceritakan sang kakek kepada neneknya, lalu sang nenek mewariskan cerita yang sebenar-benarnya tersebut kepadanya.
“Kebenaran adalah kebenaran”, ungkapnya. Namun semua kebenaran tentang informasi tersebut tersembunyi dan terlindung dengan sangat-sangat baiknya selama hampir 100 tahun, good as gold.
Ia mengatakan bahwa neneknya telah mengungkapkan sebuah rahasia ketika Patten berusia 16 tahun tetapi Patten dilarang untuk membocorkannya karena akan menyebabkan dua hal.
Pertama, rahasia ini akan menghancurkan nama baik almarhum kakeknya, Charles Lightoller, seorang penerima penghargaan pada Perang Dunia I yang juga merupakan pahlawan karena ambil bagian dalam operasi evakuasi Dunkirk pada 1940.
Kedua, rahasia ini akan mengubah sejarah serta membalikkan versi resmi dari tenggelamnya Titanic pada Minggu malam, 14 April 1912 yang menewaskan 1517 orang.

Akhirnya, pada usianya yang ke-56 tahun, dia membeberkan rahasia tersebut karena dinilainya merupakan waktu yang tepat.
Lagipula, menurutnya, semua yang terlibat dalam peristiwa Titanic telah meninggal.
Patten tidak ingin rahasia ini ikut hilang ketika dia meninggal nanti.
Rahasianya ini juga dibaginya dalam novel terbarunya yang berjudul “Good as Gold”.
“Kakekku adalah seorang petugas nomor dua di Titanic, Charles (Herbert) Lightoller. Dia sedang berada di kabin ketika kapal itu menabrak gunung es.

Titanic Captain, Edward John Smith
Dia menolak untuk ikut dalam sekoci penyelamat, karena keberuntunganlah dia akhirnya dapat hidup,” ujar Patten memulai ceritanya saat diwawancara oleh The Telegraph, Kamis 23 September 2010.
Patten menceritakan semua yang ibunya ceritakan dahulu. Patten mengatakan bahwa kakeknya meloncat ke air yang dingin saat Titanic tenggelam di perairan Grand Banks dekat pulau Newfoundland di Kanada.
Kakeknya ikut terhisap air saat kapal tersebut terhisap ke dasar laut, kemudian terjadi ledakan pada kapal yang mendorong kakeknya ke permukaan.
Beruntung, kapal penyelamat sedang berada di lokasi tersebut dan dia berhasil diselamatkan.


Ketika ditanya oleh Dewan Perdagangan Inggris dan Senat AS apakah dia melakukan percakapan setelah tabrakan dengan Kapten atau petugas pertama William (McMaster) Murdoch yang saat itu sedang bertugas, kakeknya menjawab tidak. Patten mengatakan bahwa kakeknya berbohong.
“Setelah tabrakan terjadi, kakekku turun ke bawah dengan Kapten Edward John Smith dan Murdoch, menuju ke kabin Murdoch untuk mengambil senapan untuk menjaga keadaan jika terjadi kerusuhan ketika menurunkan sekoci.
Kakek menceritakan bahwa bukannya mengendalikan Titanic memutari gunung es ke sebelah kiri, pengendali kapal Robert Hichens, panik dan memutarnya ke arah yang berlawanan,” ujar Patten.


Titanic Second Officer, Charles Lightoller
Mungkin ini terdengar sebagai kesalahan yang tidak patut bagi pengemudi kapal sekelas Titanic, namun Patten menjelaskan semuanya.
Dia mengatakan bahwa kapal uap Titanic masih menggunakan kemudi seperti kapal layar, yang disebut sebagai Tiller Orders.
Pada kemudi seperti ini, jika ingin berbelok ke kanan, maka yang ditekan adalah yang ke arah kiri, begitu juga sebaliknya.
Sedangkan kapal uap umumnya menggunakan Rudder Orders atau Helm Orders, yaitu kemudi yang berbelok persis seperti yang diinginkan.

“Murdoch memberikan perintah Tiller Orders kepada Hitchins. Dalam keadaan panik, Hitchins memutarnya menggunakan Rudder Order persis seperti pada latihan”.

Titanic hitting the iceberg

“Mereka hanya punya empat menit untuk mengubahnya, ketika Murdoch mendapati kesalahan Hitchins dan mencoba memperbaikinya, semuanya sudah terlambat,” jelas Patten.
Kemudian Patten menceritakan lagi rahasia yang lebih mencengangkan.
Patten mengatakan bahwa Hitchin lah yang membuat kesalahan, namun yang membuat keputusan menenggelamkan kapal titanic yang menewaskan ribuan orang adalah pemilik Titanic sendiri, Bruce Ismay, pemimpin White Star Line.
Titanic sinking
“Titanic menabrak gunung es pada titik vitalnya, namun menurut perkiraan kakekku, Titanic dapat mengapung dalam waktu yang lama.
Tapi Ismay keluar dan tidak ingin investasi besarnya berada diam di tengah laut Atlantic dan tenggelam perlahan, atau diderek ke pelabuhan terdekat.
Itu bukanlah publisitas yang bagus! Dia menyerukan Kapten untuk berjalan dengan pelan. Titanic dibuat tidak untuk tenggelam,” kisah Patten.


Patten mengatakan bahwa Titanic bisa saja selamat dan tidak akan ada orang yang tewas jika kapal itu diam saja dan menunggu bantuan datang.
Namun dengan berjalan perlahan, tekanan air laut memasuki lambung yang robek dan memenuhi setiap lantai satu persatu, itulah yang menyebabkannya tenggelam.
Ditanya mengapa kakeknya berbohong selama ini, Patten mengatakan bahwa kakeknya terpaksa berbohong untuk melindungi orang banyak.

Bangkai Titanic yang karam

“Ketika dia berada di sekoci, Bruce Ismay mengatakan kepada kakekku bahwa jika membocorkan hal ini, maka White Star Line akan dinyatakan lalai dan tidak layak menerima asuransi”.
Ismay mengatakan bahwa perusahaannya akan bangkrut dan semua orang akan kehilangan pekerjaannya jika semua rahasia ini terkuak.
“Ini adalah kode kehormatan diantara orang-orang seperti kakek saya pada waktu itu. Jadi dia berbohong untuk melindungi pekerjaan orang lain,” jelasnya.

Terlihat halauan bangkai Titanic yang karam
Jadi pada intinya, kejadian tenggelamnya Titanic ini bisa dibilang sabotase pemimpin White Star Line, Bruce Ismay agar mendapatkan asuransi!
Ya, semua ini demi hanya untuk mendapatkan asuransi dengan mengorbankan ribuan nyawa para penumpangnya dalam perjalanan pertama perdana, dari Eropa ke Amerika.
Louise Patten adalah seorang wanita multi milyarder yang kaya raya, ia tak mengharapkan ketenaran apalagi materi dalam menuliskan cerita dari sang kakek dan neneknya di dalam bukunya ini.
Namun ia hanya ingin agar apa yang sebenar-benarnya terjadi terhadap tenggelamnya RMS Titanic 100 tahun lalu tersebut pada suatu saat nanti tak ikut terkubur bersamanya, dan dunia takkan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik semua tragedi itu.
Itulah kisah yang sebenar-benarnya yang diceritakan oleh Louise Patten tentang RMS (Royal Mail Ship) Titanic, “kapal terbesar yang takkan pernah tenggelam”, justru tenggelam pada awal pelayarannya! (dailymail/gugling.com/icc.wp.com)

Kerajaan Pajajaran

Oleh: M. Hajaruddin
Berdirinya Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan yang berada di wilayah Pasundan, kerajaan Sunda ini beribukotanya di Pakuan, (sekarang Bogor) Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran.
Berdasarkan alur Sejarah Galuh, Kerajaan Pajajaran berdiri setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475. Kenapa demikian? Karena sepeninggal Rahyang Wastu Kencana kerajaan Galuh dipecah dua diantara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Pajajaran atau Pakuan Pajajaran beribukota di Pakuan (Bogor) di bawah kekuasan Prabu Susuktunggal (Sang Haliwungan) dan Kerajaan Galuh yang meliputi Parahyangan tetap berpusat di Kawali di bawah kekuasaan Dewa Niskala (Ningrat Kancana). Oleh sebab itu pula Prabu Susuk Tunggal dan Dewa Niskala tidak mendapat gelar “Prabu Siliwangi”, karena kekuasan keduanya tidak meliputi seluruh tanah Pasundan sebagaimana kekuasan Prabu Wangi dan Rahyang Wastu Kancana (Prabu Siliwangi I).
Cikal Bakal Kerajaan Pajajaran
Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.
Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
Prasasti Batu Tulis, Bogor
Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
Prasasti Kawali, Ciamis
Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Daftar raja Pajajaran
Prabu Susuktunggal (1475-1482)
Jaya Dewata / Prabu Siliwangi II (1482 – 1521)
Surawisesa (1521 – 1535)
Ratu Dewata (1535 – 1543)
Ratu Sakti (1543 – 1551)
Raga Mulya (1567 – 1579)


Keruntuhan
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya jaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi II). Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di wilayah yang mereka namakan Cibeo Lebak Banten. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Raja-raja Sunda-Galuh-Pajajaran setelah Sri Jayabupati
Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati, yang berjumlah 14 orang :
Raja-raja Sunda-Galuh setelah Sri Jayabupati
No Raja Masa pemerintahan Keterangan
1 Darmaraja 1042-1065

2 Langlangbumi 1065-1155

3 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155-1157

4 Darmakusuma 1157-1175

5 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175-1297

6 Ragasuci 1297-1303

7 Citraganda 1303-1311

8 Prabu Linggadéwata 1311-1333

9 Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340
menantu no. 8
10 Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350

11 Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 1350-1357
tewas dalam Perang Bubat
12 Prabu Bunisora 1357-1371
paman no. 13
13 Prabu Niskala Wastu Kancana 1371-1475
anak no. 11
14 Prabu Susuktunggal 1475-1482

Penyatuan kembali Sunda-Galuh
Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Susuktunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh).
Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Dewa Niskala sekaligus menantu Susuktunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang).

Etimologi

Sampai abad ke-16, toponim (nama tempat) "Sunda" menunjuk kepada daerah pesisir bagian barat pulau Jawa, lebih tepatnya di daerah Banten. Di awal abad ke-13, penulis Zhao Rugua dari Tiongkok menamakan "Sin-t'o" suatu kota dan daerah sekitarnya yang menghasilkan lada. Karena pada masa itu yang menghasilkan lada hanya daerah Banten, maka kini semua pakar sejarah sepakat bahwa "Sunda" tersebut itu Banten. Di sekitar tahun 1500, Shungfeng xiangsong, sebuah buku perjalanan dari Tiongkok, memakai kedua nama "Wan-tan" dan "Shun-t'a" untuk kota Banten. Di masa yang sama dua penulis Arab, Ibn Majid dan Sulaiman, menamakan "Sunda" pelabuhan yang letaknya paling barat di pantai utara pulau Jawa, yang hanya dapat mengacu ke Banten. Peta Portugis yang paling lama mengenai kawasan ini menyebut "Sunda" daerah muara sungai yang letaknya di bagian barat pantai utara Jawa. Naskah Portugis paling sering menamakan "Sunda", kadang-kadang "Bantam" bahkan "Sunda-Bantam", kota Banten sekarang.
Diperkirakan adalah orang Portugis yang pertama menimbulkan kerancuan dengan menamakan "Sunda" keseluruhan Jawa Barat. Namun di akhir abad ke-16 orang Belanda meluruskan kerancuan ini. Setelah dalam perjalanan pertamanya ke Nusantara mendapat keterangan lebih banyak tentang Banten, mereka menulis bahwa "Sunda adalah pelabuhan Banten dengan bagian pulau Jawa yang paling di barat di mana lada tumbuh". Gambar ini sama dengan apa yang ditulis Zhao Rugua hampir 400 tahun sebelumnya.
Prasasti Kebonkopi II, yang ditemukan dekat Bogor dan ditulis dalam bahasa Melayu, mencatat bahwa tahun 932, seorang "raja Sunda" menduduki kembali tahtanya. Penggunaan bahasa Melayu ini menunjukkan pengaruh kerajaan Sriwijaya.
Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 952 saka (1030 M), pusat kerajaan Sunda di bawah Maharaja Jayabupati, dinyatakan terletak di sekitar Cicatih dekat Cibadak, di pedalaman Jawa Barat, bukan di pesisir lagi.
Menurut naskah Wangsakerta, naskah yang diragukan keasliannya, Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Saka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16 ini, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Namun naskah ini diragukan sebagai sumber sejarah.

Wilayah kekuasaan

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Historiografi

Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka (536 Masehi). Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut:
Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda.
Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka (932 Masehi) karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, di era Kerajaan Tarumanagara (358-669 AD ).
Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti (menurut Pleyte):
Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 (1030 M), bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua.
Tanggal prasasti Jayabupati diperkirakan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952-964) saka (1030 - 1042AD).

Catatan sejarah dari Cina

Menurut F. Hirt dan WW Rockhill, ada sumber Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, inspektur perdagangan dengan negara-negara asing, Zhao Rugua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, Zhufan Zhi, yang ditulis tahun 1225, menyebutkan pelabuhan di "Sin-t'o". Zhao melaporkan bahwa:
"Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian, rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat dengan papan kayu yang diikat dengan rotan. Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun, dan memotong rambut mereka sampai panjangnya setengah inci. Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil, tetapi berat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban, Jawa Timur). Negara ini menghasilkan labu, tebu, telur kacang dan tanaman."
Buku perjalanan Cina Shunfeng xiangsong dari sekitar 1430 mengatakan :
"Dalam perjalanan ke arah timur dari Shun-t'a, sepanjang pantai utara Jawa, kapal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai Kalapa, mereka kemudian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu), akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melewati Kalapa, melewati Indramayu, melewati Cirebon."

Catatan sejarah dari Eropa

Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kerajaan Sunda oleh kekuatan Kesultanan Banten. Salah satu penjelajah itu adalah Tomé Pires dari Portugal. Dalam bukunya Suma Oriental (1513 - 1515) ia menulis bahwa:
"Beberapa orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa; sebagian lagi mengatakan bahwa Kerajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya."
Tulisan ini yang membawa kerancuan, dengan menyatakan bahwa kerajaan Sunda meliputi "sepertiga dari pulau Jawa", sedangkan pada masa Pires Sunda masih mengacu ke pelabuhan yang sekarang namanya Banten.

Berdiriya kerajaan Sunda

Menurut Naskah Wangsakerta dari Cirebon, sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Federasi antara Sunda dan Galuh

Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.
Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.
Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan Pajajaran, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.
Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.
Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).
Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.
Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). Rakryan Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).
Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Airlangga (1019-1042).
Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.
Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur saat Perang Bubat. Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).
Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).
Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.

Arkeologi

Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut "arca Caringin" karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulosari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10.
Di situs purbakala Banten Girang, yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan di abad ke-10. Banyak unsur yang ditemukan dalam reruntuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah.

Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh

Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):
  1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
  2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
  3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
  4. Rakeyan Banga (739 - 766)
  5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
  6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
  7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
  8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
  9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
  10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
  11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
  12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
  13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
  14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
  15. Munding Ganawirya (964 - 973)
  16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
  17. Brajawisésa (989 - 1012)
  18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
  19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
  20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
  21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
  22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
  23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
  24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
  25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
  26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
  27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
  28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
  29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
  30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
  31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
  32. Prabu Bunisora (1357-1371)
  33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
  34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
  35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
  36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
  37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
  38. Prabu Sakti (1543-1551)
  39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
  40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)
Blogger Gadgets